Pendidikan Indonesia di Jaman Kolonial dan Setelah Merdeka

         



Siapa saya saat ini ? saya adalah seorang mahasiswa PGG yang mempunyai keinginan untuk menambah atau meningkatkan kemampuan pengetahuan dan skill untuk menjadi pendidik yang profesional. Pendidik yang profesional akan dapat meningkatkan atau menciptakan peserta didik yang unggul dan memiliki karakter berakhlak mulia sesuai dengan nilai nilai budaya Indonesia dan Pancasila. Mengapa saya memilih jadi guru ? Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa, jasanya akan selalu dikenang, dan tidak ada istilah mantan guru bagi mereka yang pernah belajar.

Pendidikan yang harusnya untuk semua orang hanya didapat oleh orang-orang tertentu individualistik dan materialistik, pembelajaran hanya membaca, menulis dan menghitung. Tahun 1854 dari inisiatif para Bupati mendirikan tempat belajar atau sekolah terbatas hanya untuk mendidik calon pegawai. Dilanjut dengan berdirinya sekolah Bumiputera hanya 3 kelas. Sangat terbatas ruang belajar yang mempengaruhi jumlah orang untuk belajar. Kemudian dalam pembelajaran sekolah tersebut hanya sebatas membaca, menulis dan menghitung tidak ada pembelajaran lainya. Sekolah ditempati hanya orang orang berkepentingan dengan usaha dagang. 

Tahun 1908 lahirlah organisasi Boedi Oetomo yang ingin merubah pendidikan saat itu agar lebih bebas untuk semua orang. Tahun  1912 lahirlah sekolah wanita yaitu Sekolah Kartini yang memiliki tujuan perjuangan wanita. Terkenala dengan kalimat Habis Gelap Terbitlah Terang. Lanjut tahun 1920 lahirlah Taman Siswa yang didirikan Ki Hadjar Dewantara. Sekolah yang didirikan untuk semua golongan sebagai pembanding sekolah kolonial yang hanya untuk kepentingan tertentu. 

Praktik Pendidikan saat  ini yang ‘membelenggu’  kemerdekaan peserta  didik sebelum kemerdekaan:

         Peserta didik terbelenggu karena hanya golongan tertentu yang dapat mengenyam pendidikan. Yaitu orang-orang tertentu dari golongan atas

         Pendidikan saat itu hanya diutamakan untuk mereka yang berafiliasi dengan serikat dagang

         Saat itu pendidikan hanya diajarkan membaca, menulis, dan berhitung

         Terjadinya diskriminasi gender antara laki-laki dan perempuan dalam mengenyam pendidikan

Praktik Pendidikan saat  ini yang ‘membelenggu’  kemerdekaan peserta  didik

sesudah kemerdekaan:

         Guru yang otoriter dan instruktif

         Peserta didik dituntut untuk menguasai seluruh materi pelajaran

         Metode pembelajaran yang dipakai pendidik tidak sesuai dengan karakter peserta didik.

         Kurangnya tenaga pendidik yang profesional

Komentar